Beberapa kebiasaan pemicu diabetes. Pola hidup terbentuk dari berbagai kebiasaan yang kita jalani. Oleh karena jika ingin mengubah pola hidup, akan lebih baik jika kita memulainya dengan mengganti kebiasaan-kebiasaan kecil yang kadang biasa kita jalani. Berikut ini adalah 9 kebiasaan kecil yang bisa memicu diabetes dan juga solusinya:
·
Teh manis
Penjelasannya sederhana.
Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi, belum lagi
risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori
(tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori perempuan dewasa rata-rata adalah
1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah
dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk
pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori, maka ujungnya akan
menjadi obesitas dan diabetes.
Jika sudah demikian, maka solusi yang bisa
dilakukan adalah dengan meminum air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi
gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.
·
Gorengan
Karena bentuknya kecil, biasanya
satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor
risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, DM, dan
stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan
pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah
dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar
kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan
kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Sebagai penggantinya bisa mengonsumsi
kacang jepang atau pie buah.
·
Suka mengemil
Kita mengira bahwa dengan
membatasi makan Siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan
diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong
camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang,
dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta
pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan ke dalam makanan dengan
glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di
dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah. Sebagai
gantinya, Anda bisa menjadikan buah potong segar yang berindeks glikemik rendah
Sebagai camilan.
·
Kurang tidur
Jika kualitas tidur tidak
didapat, maka metabolisms menjadi terganggu. Hasil riset para ahli dari
University of Chicago mengungkapkan bahwa kurang tidur selama 3 hari
mengakibatkan kemampuan tubuh dalam memproses glukosa menurun drastis. Artinya,
risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon
dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan
tidur terpicu untuk menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula
darah naik. Solusi yang harus dilakukan adalah dengan tidur tidak kurang dari 6
jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.
·
Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO)
menyatakan bahwa kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90%
dalam 20 tahun ke depan. Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes
di Hanoi, Vietnam berlipat ganda karena masyarakat di kota tersebut lebih
memilih untuk naik motor dibanding bersepeda. Kesimpulannya, mereka yang
aktivitas fisiknya sedikit berrisiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka
yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya. Solusi yang bisa
dilakukan adalah sesering mungkin menggunakan sepeda untuk bepergian, misalnya
bersepeda ketika hendak pergi kantor.
·
Sering stres
Saat stres datang, tubuh akan
meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik
dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang
sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun jika gula darah terus dipicu
tinggi karena stres berkepanjangan, maka akan meningkatkan risiko untuk
terjadinya diabetes.
Solusinya bisa dilakukan dengan
mengungkapkan dan menceritakan kasus yang membuat Anda stres pada orang
kepercayaan Anda. Mengikuti kelas-kelas yoga dan hipnoterapi untuk menenangkan
pikiran juga bisa menjadi alternatif Solusi yang cerdas.
·
Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang
melibatkan 4.572 relawan laki-laki dan perempuan menemukan data bahwa risiko
perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22%. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak
hanya disebabkan oleh rokok, tetapi juga kombinasi berbagai gaya hidup tidak
sehat seperti pola makan dan olahraga.
Satu-satunya solusi yang harus
dilakukan adalah berhenti merokok. Untuk menghilangkan kebiasaan merokok dapat
dilakukan dengan berbagai macam cara seperti hipnosis atau mengikuti kelas terapi
untuk perokok.
·
Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi
terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil
kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Kerja hormon pil
kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan,
pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu
lama dibiarkan, maka pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.
Solusinya adalah dengan membatasi
waktu penggunaan pil-pil hormonal; jangan lebih dari 5 tahun. Selain itu,
selalu konsultasikan rencana KB Anda dengan bidan atau dokter obsgin
kepercayaan Anda.
·
Berlebihan dalam mengonsumsi
minuman bersoda
Penelitian yang dilakukan oleh
The Nurses' Health Study // terhadap 51.603 perempuan usia 22-44 tahun
menemukan data bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan
dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko
itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain
itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk
minum lebih banyak.
Solusinya adalah dengan mengubah
kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda dengan jus dingin tanpa gula. Tentu
dengan tetap memperhatikan jumlah kalori yang terkandung dalam buah yang dijus
tersebut.
